Keunikan Diri Remaja
Berbicara
tentang remaja memang selalu menarik perhatian semua kalangan. Tidak hanya
karena remaja merupakan sosok unik ketika melewati fase perubahan fisik namun
juga dari perubahan non fisik yang penuh gejolak, potensi dan kedinamisan.
Remaja laki‐laki dengan perubahan suara, adanya jakun, atau mulai tumbuhnya —
payudara pada perempuan menunjukkan adanya perubahan fisik. Sedangkan perubahan
non fisik meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter
yang sering ditemui dari gejala yang ditunjukkan dalam perilakunya. Pakar psikologi
mengatakan fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri dan pemahaman
diri, penjajakan peranan dan kedudukannya dalam lingkungan.
Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja membutuhkan
kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: “Perilaku mampu
berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan
dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.” Ada suatu dorongan
yang kuat untuk terlepas dari ketergantungan dengan orang tua , keinginan
dihargai sebagai orang dewasa dan mempunyai hak terhadap dirinya dalam
berkeputusan.serta bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.
Masa remaja adalah masa pembelajaran. Meskipun remaja
mendapatkan kesempatan mengembangkan potensi diri namun tetap memerlukan bekal,
bimbingan dan pengarahan orang tua, pendidik serta dukungan lingkungan yang
kondusif. Membekali mereka dengan pemahaman sebuah konsep hidup yang benar
sangat diperlukan dalam proses pencarian jati diri. Dengan bimbingan, membentuk
remaja merasa percaya diri karena secara kemampuan mereka belum teruji dalam
menghadapi tantangan hidup. Keterlibatan orang tua, pendidik dan lingkungannya
dalam memberikan pengarahan akan membentuk kesiapan mentalnya karena secara
kejiwaan remaja masih labil, mudah kebingungan ketika mengalami kesulitan dan
kegagalan menjalani hidupnya.
Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati hari AIDS sedunia.
Dunia menyoroti tentang bahaya HIV/ AIDS yang mengancam jiwa manusia. Ibarat
sebuah penyakit kanker yang siap memberangus setiap nyawa yang ditemuinya.
Setiap tahun kita terperangah dengan semakin meningkatnya orang dengan HIV/AIDS
dan pecandu
narkoba. HIV/AIDS dan narkoba bukan lagi menjadi endemik ganda yang mengancam
kehidupan gemerlap, bebas dan para penjaja seks namun sudah mulai masuk dalam
ranah kehidupan rumah tangga dan anak‐anak.
Mencuatnya
kasus asusila tersebut, penulis berupaya menggaris bawahi dari pada indikator
yang menyebabkan terjadinya prilaku yang menyimpang melalui pendekatan
psikologis. Setidaknya ada beberapa indikator yang mengharuskan fenomena
tersebut terjadi, diantaranya adalah :
Pertama muatan materi agama yang masih minim.
Sudah
menjadi rahasia umum, bahwasanya muatan materi pengetahuan agama pada kurikulum
sekolah umum hanya diberikan dua jam saja dalam satu minggu. Mari kita
bersepkulasi, andai saja dalam seminggu guru mengajarkan secara penuh materi
agama, belum menjadi jaminan siswa memahami dan mempraktekkan dalam
kehidupannya, apalagi jika dalam satu minggu guru tidak masuk atau hanya satu
kali.
Materi/ajaran
agama tidak saja melulu menerangkan masalah ubudiyah yang sifatnya wajib, atau
doktrin jihad, namun lebih dari itu ajaran agama mengajarkan kita masalah
moralitas, untuk berprilaku baik terhadap orang tua, keluarga, bergaul dengan
komunitasnya dan orang banyak, menghargai sesama makhluk dan memprilakukan
dengan baik lingkungan sekitarnya, terlebih mengenai hubungannya dengan Sang
Pencipta. Karena pada dasarnya seluruh agama yang ada, tidak membenarkan
ummatnya melakukan seks bebas secara berramai‐ramai. Bukankah moralitas bangsa
ditentukan oleh moralitas masyarakatnya?
Kedua, doktrin hidup bebas dan
serba glamour seolah menjadi ideologi anak muda. Pada masa muda, terlebih bagi keluarga yang berada, masa muda
merupakan
masa indah, yang
disesalkan jika tidak dimanfaatkan dan dilewatkan meski sedetikpun. Kebebasan
merupakan ideologi dalam berprilaku, dan apa yang dilakukannya merupakan sebuah
kebenaran. Gaya hidup mereka, disamping disebabkan kurangnya pengetahuan terhadap
ajaran agama, juga kurangnya perhatian dari pihak keluarga, belum lagi serbuan
yang menyerang imajinasi remaja usia labil yang terus memberondong dari mulai
ia keluar rumah melalui gambar‐ gambar, pamlet, iklan‐iklan di media cetak atau
elektronik ditambah lagi dengan sajian sinetron remaja yang mereka tonton di
televisi. Keterjerumusan
usia pelajar pada dunia seks tidak dipungkiri merupakan hasil dari rasa
keingintahuan terhadap seks itu sendiri, yang mereka dapatkan dari media‐
media, video cassete disk dan fasilitas lainnya. Yang tanpa disadari dengan
sekali melakukan, ia akan terjerumus pada pecandu seks bebas.
Ketiga guru hanya sebagai pengajar bukan pendidik.
Pada
kondisi perekonomian Indonesia yang carut marut, harga bahan bakar dan bahan
pokok melambung tinggi, sedangkan pendapatan bulanan hanya cukup untuk beberapa
hari saja, tidak pelak lagi, kondisi ini hanya akan mengantarkan masyarkat pada
tahap kefrustasian. Tidak salah jika profesi seorang guru merupakan profesi
pertama yang merasakan imbasnya. Maka kemudian yang terjadi adalah, guru yang
seyogyanya sebagai pendidik siswanya baik di lingkungan maupun di luar sekolah,
hanya berfungsi sebagai pengajar di kelas. Mari kita bicara jujur, hanya dengan
beberapa ribu yang diterima oleh para guru, hanya mampu menghidupkan
keluarganya selama beberap hari saja.
Kemudian
pertanyaan yang timbul adalah dari mana mereka memenuhi kebutuhan hidup
sehari‐harinya? Sekarang mari kita berapologi, fungsi seorang guru yang
pengajar memiliki peran ganda dalam memenuhi kebutuhan sehari‐harinya; biaya
makan, biaya sekolah, transportasi ke sekolah, beli obat dan lainnya, yaitu di
samping ia sebagai pengajar di kelas, juga ia sebagai pengojek yang (bisa jadi)
menjemput siswanya pulang sekolah, mengantar orang tua murid ke pasar atau
kantor.
Betul
jika guru memiliki peran ganda, yaitu seorang pengajar juga pengojek. Maka
kemudian pertanyaan yang timbul adalah, tanggung jawab siapa prilaku siswa
di luar sekolah?
Keempat ,meski dianggap argumen
klasik, tapi kadang problem yang ditimbulkan dalam keluarga mendominasi dari timbulnya prilaku menyimpang pada
diri anak.
Prilaku
menyimpang anak usia pelajar tidak sepenuhnya kesalahan anak, tapi bisa saja
disebabkan keharmonisan dalam keluarga mulai menipis dan menghilang. Keributan
orang tua di depan mata putra‐putrinya sudah menjadi tontonan, layaknya mereka
melihat adegan ribut dalam sinetron/film Indonesia. Tanpa disadari bahwa apa
yang dilakukan orang tua di depan anaknya sudah menghancurkan psikolgis sang buah hati, maka
dalam kondisi keputusasaan usia pelajar sangat mudah mengambil keputusan untuk
menentukan jalan hidupnya sendiri, meskipun berakbiat fatal.
Dari
pemaparan di atas penulis mengajak untuk bersepkulasi, lalu siapa yang patut
disalahkan dengan kejadian seks bebas di kota gerbang marhamah tersebut?
Sekolah yang memberi porsi agama sangat minim, pelajar yang mengikuti arus
globalisasi hidup bebas, guru yang berpenghasilan sedikit kemudian berperan
ganda, sebagai pengajar dan pengojek, atau aksi keributan orangtua di depan
anaknya dan bersikap acuh terhadap anaknya?
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seks bebas.
Pertama, industri pornografi. Luasnya
peredaran materi pornografi memberi pengaruh
yang sangat besar terhadap pembentukan pola perilaku seks remaja. Kedua, pengetahuan remaja tentang
kesehatan reproduksi. Banyak informasi tentang kesehatan reproduksi yang tidak akurat, sehingga dapat menimbulkan
dampak pada pola perilaku seks yang tidak sehat dan membahayakan.
Ketiga, pengalaman
masa anak‐anak. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang pada masa anak‐anak mengalami pengalaman buruk akan
mudah terjebak ke dalam aktivitas seks pada usia yang amat muda dan memiliki
kencenderungan untuk memiliki pasangan seksual yang berganti‐ganti.
Keempat, pembinaan
religius. Remaja yang memiliki kehidupan religius yang baik, lebih mampu berkata ‘tidak’ terhadap
godaan seks bebas dibandingkan mereka yang tidak memperhatikan kehidupan
religius.
Menurut Dr. Boyke Dian Nugraha, seks bebas penyebabnya antara
lain maraknya peredaran gambar dan VCD porno, kurangnya pemahaman akan
nilai‐nilai agama, keliru dalam memaknai cinta, minimnya pengetahuan remaja
tentang seksualitas serta belum adanya pendidikan seks secara reguler‐formal di
sekolah‐ sekolah. Itulah sebabnya informasi tentang Makna Hakiki Cinta dan
adanya Kurikulum Kesehatan Reproduksi di sekolah mutlak diperlukan.
Melacak lebih jauh persoalan cinta dan seksualitas di kalangan
remaja ini, ada sejumlah fakta yang mesti diterima dengan lapang dada dan
disikapi secara bijak. Pertama, banyak remaja
memiliki persepsi yang salah tentang cinta. Misalnya, “Cinta itu memiliki dan harus mau berkorban”.
Ketika anugerah cinta singgah di hatinya, ia tidak rela hubungan cintanya
disudahi. Konsekuensinya, ia pun rela melakukan apa saja yang diinginkan
pasangannya, termasuk melakukan perbuatan yang belum layak mereka lakukan.
Kedua, tawaran
erotisme dan stimulasi seksual yang seronok ‐ vulgar, yang disuguhkan media massa begitu deras mengalir di ruang publik. Hal
tersebut sangat berdampak buruk pada mentalitas para remaja. Tawaran erotisme
dan stimulasi seksual tersebut akan menimbulkan implikasi psikologis di
kalangan remaja yang sedang dalam proses transisi mencari identitas diri.
Ketiga, cinta dan
seksualitas merupakan hal yang sangat menarik perhatian remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa
remaja tersebut segala perangkat seksualnya mengalami perkembangan pesat dan
dorongan seksualnya pun menjadi hal yang sangat akrab dalam kehidupan mereka.
Keempat, cinta dan
seks adalah dorongan alami yang tak dapat dipisahkan dalam perkembangan setiap manusia yang normal. Dorongan seks tersebut
sering menimbulkan masalah tetapi bukan tidak bisa diatasi. Seks harus dilihat
dari konteks kehidupan kita secara utuh, tidak parsial. Dorongan itu bisa
disublimasi menjadi potensi yang positif untuk berprestasi bila ditangai secara
benar.
Kelima, kini, seks
bukan monopoli orang dewasa atau orangtua lagi. Seks juga milik remaja. Nilai seks yang luhur itu pun
sudah sedikit demi sedikit meninggalkan ketabuannya. Oleh sebab itu, nilai
luhur seks itu harus ditanamkan pada remaja. Kalau dulu orang malu
membicarakannya meskipun begitu banyak orang mengalami masalah seks, malu kalau
ketahuan punya pacar, sekarang sebaliknya kalau tidak berani berpacaran bisa
dinilai kuper dan ketinggalan zaman. Remaja, kini cepat dewasa. Malu kalau
sudah duduk di bangku SMP, apalagi SMA belum memiliki pacar.
Keenam, para remaja
kita sekarang ini (khususnya di kota‐kota besar termasuk di Pontianak) telah mengalami pergeseran nilai yang cukup signifikan
terhadap seks ini. Pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi, seks bebas (free
sex), intercouse, sex pranikah, dan berbagai aktivitas seksual lainnya bukan lagi
sesuatu yang asing bagi mereka. Mereka begitu permisif dengan hal‐hal tersebut.
Di mata mereka, di dalam seks
hanya ada kesenangan. Sementara sisi buram akibat perbuatan mereka hampir tidak
pernah dipikirkan.
Ketujuh, banyak remaja
yang kurang bahkan tidak mempunyai pemahaman yang memadai tentang masalah cinta dan seks ini. Banyak diantara mereka
yang tidak mengenal organ tubuhnya sendiri secara baik, sementara tingkat
keingintahuan mereka mengenai masalah seks ini begitu besar. Untuk memenuhi
keingintahuan mereka yang begitu besar tersebut, mereka mencarinya secara
sembunyi‐sembunyi. Akibatnya, tidak sedikit di antara mereka yang terjebak
dalam informasi yang salah bahkan menyesatkan yang dapat membahayakan
perkembangan mental mereka. Untuk semua fakta itulah, informasi yang jelas,
lugas dan komprehensif perihal makna hakiki cinta dan seks dengan segala dampak
yang ditimbulkannya mutlak diperlukan.
Remaja aset bangsa dan agama
Persoalan remaja saat ini sudah masuk dalam tataran kritis dan
sulit dikendalikan. Hal ini menjadikan berbagai kalangan merasa cemas dan
berupaya menemukan langkah‐langkah penyelesaiannya. Bagaimanapun juga remaja
adalah aset negara, agama, dan penerus perjuangan generasi sebelumnya. Secara
kejiwaan remaja mempunyai energi yang berpotensi menghasilkan kecermelangan
berfikir dalam menemukan ide dan inovasi baru yang penuh kedinamisan. Namun
potensi ini harus diimbangi dengan kejelasan arah dan tujuan hidupnya. Ketika
remaja kosong dengan tujuan hidup yang benar, pemanfaatan potensi ini akan
beralih pada keadaan yang justru merugikan bahkan menghancurkan kehidupannya.
Sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan presiden RI bahwa
endemik ganda narkoba dan HIV/AIDS telah mencapai keadaan yang mengkuatirkan
eksistensi negara. Beliau menyarankan langkah antisipatif dengan 3T‐nya:
Tingkatkan kepemimpinan dan upaya pencegahan, Tingkatkan layanan kesehatan
komprehensif, profesional dan manusiawi, dan Tingkatkan mobilisasi sumber dana
dan daya. Banyak pula pernyataan solutif yang diberikan para praktisi
kesehatan, psikologi bahkan pemerhati remaja tentang cara terbaik bagaimana
mencegah semakin menjamurnya kasus endemik ganda yang merusak generasi bangsa.
Pergaulan bebas yang
terjadi di kalangan remaja sekarang sudah menjadi wabah yang setiap saat bisa
melahirkan berbagai penyakit fisik dan psikososial. Sebagian praktisi
mengatakan remaja putri merupakan pihak yang sangat dikorbankan akibat
pergaulan bebas ini Untuk itu perlu memberikan pendidikan tentang kesehatan
reproduksinya sehingga remaja memahami tentang dirinya, keunikan organ
reproduksinya. Dengan demikian remaja mampu memberikan keputusan tepat dan
bertanggung jawab terhadap penggunaan organ reproduksinya. Selain itu dengan
dalih kedaruratan, diambil langkah‐langkah penyelesaikan seperti ATM kondom
untuk mencegah penularan HIV/AIDS, anjuran pemakaian jarum steril saat
mengonsumsi narkoba, kemudahan sarana untuk melakukan aborsi aman yang
sebenarnya justru akan memfasilitasi semakin berkembangnya seks bebas berikut
juga dampaknya. Sekali lagi kita selalu dihadapkan dengan kenyataan bahwa
kenaikan kasus dampak dari pergaulan bebas yang terjadi di masyarakat terutama
remaja semakin tidak terkendali. Ibarat fenomena gunung es dampak pergaulan
bebas dan seks bebas yaitu meningkatnya pemakai narkoba, berkembangnya penyakit
menular seksual terutama HIV/AIDS yang akan menghancurkan aset termahal bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar